Skip to main content

Job Seeker

Suasana di ruangan kantor pagi itu masih sepi saat aku telah sedikit disibukkan mengacak-acak meja kerja karena mencari sebuah dokumen yang oleh seorang rekan kerja minta dikirimkan ke kantornya, di luar kota. Berharap ketemu dokumen yang aku cari, aku malah mendapati sebuah karcis tanda masuk yang mengingatkan kembali beberapa hal serta mensyukuri nikmat Allah saat ini.

 

Tlogosari, Semarang Januari 2014

Semarang saat itu sedang cukup terik meskipun sedang musim penghujan dan padahal saat itu masih sekitar pukul 9.30-an pagi. Setelah melakukan aktivitas yang telah menjadi keseharian saya selama hampir lima bulan terakhir, sambil leyeh-leyeh di teras masjid, “klunting” tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi di ponsel, dan ternyata pemberitahuan adanya surat elektronik yang baru saja masuk. Sedikit penasaran, aku mencoba membuka email tersebut. Dahiku sedikit mengernyit setelah mengetahui isinya. Panggilan untuk mengikuti seleksi masuk sebagai karyawan di sebuah BUMN, tempat bekerjaku saat ini. Telkom Indonesia. Hal ini cukup mengganjal di hati karena aku memang tak pernah merasa mendaftar ke perusahaan ini maupun perusahaan lainnya.

Memang setelah lulus kuliah di bulan Juni 2013, aku memutuskan untuk belum mencari pekerjaan karena merasa ingin istirahat sejenak dan mencoba mencari hal yang bermanfaat selain ilmu yang ada di sekolah-sekolah formal. Berbekal kursus singkat terkait psikologi pedagogi dari hasil mondok di sebuah pesantren di Jawa Timur, aku memutuskan untuk mengambil sebuah tawaran menjadi guru di Sebuah Taman Pengajian Al Quran (TPA) di Semarang.

Setelah membaca dengan seksama isinya, ternyata ada beberapa teman sekelas yang juga mendapatkan undangan serupa. Kami pun saling mengkonfirmasi kebenaran email tersebut. Tak puas sampai di situ, aku langsung menelpon salah satu nomor kontak narahubung yang tertera di surel tersebut. Ternyata benar. Itu adalah undangan resmi dari Telkom Indonesia yang bekerjasama dengan Telkom Unversity dalam perekrutan karyawan baru. Setelah berbicara dan meminta pendapat orang tua serta pemibina TPA, akhirnya ku putuskan untuk mengikuti seleksi itu.

“Wong sampeyan gak daftar, ya coba aja, mungkin rejekine sampeyan, dari Allah”, pesan Pak Sukardi, pembina TPA

Tahapan demi tahapan test aku ikuti tanpa beban, nothing to lose mungkin istilanya. Yang ada di kepalaku pada saat melalui proses test hanya, “dapat ya syukur, gak dapat ya syukur, toh Allah yang atur, aku cuma berusaha”.

Alhamdulillah, Lanang Prayogo saat itu menjadi salah satu nama yang diumumkan lulus seleksi menjalani tahapan orientasi untuk menjadi karyawan Telkom Indonesia.

 

Bandung April 2017

Saat itu suasana Bandung sedikit mendung saat aku menunggu jemputan seorang teman yang kebetulan bekerja di PT Dirgantara Indonesia, tak jauh dari tempatku menunggu, Bandara Husein Sastranegara. Akhirnya si Bengak itu muncul juga, Hadi namanya, cuma lebih pas kalo dipanggil Bengak. Entah kenapa, tapi kadang memang panggilan itu cocok untuknya. Mengetahui tujuan kedatanganku untuk mencari kerja, Hadi mendadak kaget, dia mengira chat kami di Line beberapa hari yang lalu itu hanya sekadar gurauan. Ya saat itu dan hingga saat ini aku masih berstatus sebagai karyawan tetap di salah satu BUMN yang paling sehat dan menjanjikan.

“Apa yang kau cari anak mudaaa… hahahah” ledeknya.

Ya beberapa teman dekat banyak yang menganggap pilihanku untuk mencari pekerjaan baru di saat berstatus sebagai karyawan tetap sebuah perusahaan yang mungkin diidam-idamkan oleh banyak orang adalah pilihan yang cukup beresiko.

Entah lah, sampai saat ini aku selalu berusaha melakukan hal positif apapun  selagi aku mampu untuk mewujudkan sebuah cita dan harapan. Sejauh ini ada dua alasan yang sempat membuatku mencari pekerjaan baru, resign. Yang pertama hanya masalah keinginan untuk memanjangkan rambut yang tak diijinkan oleh pimpinan kantor saat itu. Terdengar sepele namun sebenarnya saat itu aku sedang sangat ingin memanjangkan rambut dan ada hal lain dibalik itu. Sementara alasan yang kedua adalah terkait aturan di perusahaan yang bertentangan dengan hak asasi dan fitrah dasar manusia, menurutku hal ini cukup personal, nanti Insya Allah akan ada porsi tulisan tersendiri masalah ini.

Berstatus karayawan yang baru memiliki pengalaman dua tahun bekerja serta umur yang tak lagi muda untuk ukuran seorang fresh graduate, membuatku menjadi lebih sulit mendapatkan pekerjaan baru. Semua serba tanggung. Hendak mendaftar sebagai fresh graduate, sangat sedikit perusahaan yang cocok dengan umurku saat itu. Tapi aku tak cukup berpengalaman ketika mendaftar sebagai seorang profesional-hire. Hal ini membuat pilihanku menjadi sangat terbatas.

Keesokan harinya 8 April 2017, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku resmi berstatus sebagai seorang Job Seeker, pencari kerja. Dan untuk pertama kalinya pula datang ke sebuah Job fair yang diadakan oleh ITB dengan tajuk ITB Career Days. 

Umumnya seorang pencari kerja, aku menenteng beberapa copy-an CV yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Hiruk-pikuk suasana tempat pada saat itu membuatku terus berpikir sambil bergumam dalam hati “gini ya rasanya jadi Job Seeker”.

“Apa yang kau cari, anak mudaaa?” sesekali ledekan si Bengak itu seolah muncul di kepala.

Mendekati adzan zuhur, semua rasanya sudah cukup untuk berburu pekerjaan kali ini, dengan harapa nantinya dari CV-CV yang aku daftarkan pada perusahaan yang aku anggap cocok tadi menghasilkan sebuah panggilan untuk wawancara ataupun proses seleksi lainnya. Namun hingga kini tak satupun panggilan itu datang. Pernah ada email masuk, itupun permintaan maaf karena aku bukan kriteria karyawan yang sedang mereka cari. Entahlah, mungkin aku ditakdirkan berjodoh dengan Telkom Indonesia.

Bersyukur saat ini oleh Allah aku masih dikasih kekuatan dan kesempatan untuk mencari rezeki yang halal dengan cara yang tidak terlalu sulit. Tapi pengalaman menjadi seorang Job Seeker rasanya patut disyukuri dan dijadikan pelajaran dalam hidup kedepannya.

Yang pasti adalah kita hanya bisa melakukan bagian kita, yaitu usaha sekuat tenaga dan tawakal. Sisanya ? Ya itu urusan Allah, kita hanya diminta percaya, sabar dan usaha.

…….., Sesuangguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS 2:153)

2 thoughts to “Job Seeker”

  1. Assalamualaikum namaste 🙏 to the point saja saya suka tulisan masnya. Saya mungkin belum pernah mencari pekerjaan atau menjadi seorang job seeker sebab setelah lulus kuliah saya langsung mendapatkannya. Tapi saya sadar kalo mencari pekerjaan tetap itu tak mudah. Sempat beberapa kali terlintas ingin resign tapi sy mencoba bertahan beberapa saat dan rasa nyaman itu kembali lagi. Sy melakukan itu buat mama yg selalu mendukung dan menyabarkanku.
    Sudah lama sy mw menulis sesuatu ttg pengalaman saya tapi kalo sy bercerita itu tak berurutan berputar-putar. Sama hal nya dengan tulisanku. Tapi tulisan masnya terurut, mudah dipahami, dan ada pesan moral juga ayat alquran diakhir tulisan. At least I like it.
    Jadi pengin belajar menulis kek gini, jujur baru baca satu tapi sy sudah terkesan mungkin karena tulisanku tak sebagus masnya. Insya Alloh sy akan baca semua tulisan masnya dan semoga bisa tetap update dgn tulisan yang baru…

    1. Aamiin, ntar coba diupdate lg, sekedar tips buat nulis, usahakan tetep pake 5W+1H biar bisa selesai dari awal sampe akhir, trus banyak2 baca aja, nanti ketemu sendiri kok gaya menulisnya, keep trying, sukses selalu. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.