Skip to main content

Rambut Gondrong

Waktu itu di sebuah mini market telah mengantre di depan kasir beberapa orang ibu-ibu dengan beberapa anak kecil, anak dari ibu-ibu tersebut. Kemudian paling belakang nampak seoarang pemuda dengan perwakan sedikit berantakan, berambut gondrong urakan dan memakai topi army cap berwarna cokelat. Setelan kemeja flanel merah dan celana pendek dipadukan dengan sendal gunung membuat pemuda gondrong tersebut tampak seperti preman perempatan atapun tukang bentor. Persis. Hal tersebut membuat ibu-ibu di depannya sedikit khawatir seperti akan dicopet oleh pemuda ini dan ibu lainnya terkesan seperti risih dan mengambil jarak. Mereka seoalah takut kalau-kalau pemuda ini mengeluarkan sebilah pisau atau senjata lainnya kemudian melakukan aksi tindakan kejahatan, maklum kerena kebetulan pada saat itu di mini market tersebut tak nampak laki-laki yang sekiranya sanggup membela diri kalau pemuda gondrong ini benar-benar nekat melakukan tindak kejahatan.

Cerita di atas adalah pengalaman yang saya alami ketika berkunjung ke sebuah minimarket pada malam hari, kalau tidak salah mendekati pukul 10 malam. Ya benar, saya lah pria berambut gondrong dan berpenampilan urakan itu. Saya berpewakan gondrong dan sedikit brewokan kira-kira pada medio Mei hingga Juni 2016. Hanya ingin saja. Itu alasan yang paling kuat, maklum sejak lahir tak pernah gondrong. Sewaktu kuliah, mungkin banyak orang yang beranggapan saat itu adalah saat di mana kita bebas berpenampilan apa dan seperti apapun selama mengikuti norma. Namun itu tidak saya lakukan meskipun saat itu saya adalah anggota Mapala yang selalu identik dengan rambut gondrong, bukan karena peraturan dari kampus yang tak membolehkan memiliki rambut gondrong, tetapi memang saat itu saya lagi belum berkeinginan untuk gondrong.

Entah kemasukan angin apa, mulai bulan November 2015 saya berniat memanjangkan rambut. Banyak yang bilang waktu itu bahwa saya telat nakal. Lantas saya berfikir, apakah laki-laki berambut panjang itu identik dengan orang nakal, preman, tak bisa diatur dan tak paham aturan. Lalu saya merasa tertantang untuk membalikkan stigma yang seolah terlanjur melekat pada setiap lelaki berambut gondrong.

Waktu itu saya sudah bekerja di salah satu BUMN. Meski tak ada aturan yang melarang bahwa karyawan dilarang berambut gondrong, tentunya jika ada karyawan yang berambut gondrong dan sedikit urakan menjadi pemandangan tak lazim di kantor. Dibanding mirip karyawan, waktu itu saya malah lebih mirip tukang bentor. Jujur. Ada yang menganggap biasa saja ada pula yang beranggapan bahwa tak pantas berambut gondrong untuk ukuran seorang karyawan BUMN. Tapi saya tetap cuek saja. Bahkan pernah juga saya disindir oleh atasan, seperti orang yang sedang stress, gara-gara berambut gondrong, dan saya ingat betul sampai tiga kali beliau menyindir saya, namun tetap belum menyuruh untuk potong rambut. Dan saya pun tetap memanjangkan rambut dengan penuh percaya diri.

Kondisi rambut saya pada pertengan maret 2016

Entah kenapa pendapat yang umum beredar di masyarakat adalah orang yang berambut gondrong itu selalu identik dengan tindakan krimnal dan melawan hukum. Semoga saya salah akan hal ini. Tapi dari cerita saya di awal tampaknya memang demikian. Padahal kondisi sebenarnya adalah penampilan itu tidak selalu menunjukkan seperti apa kelakuan kita. Toh walaupun berambut gondrong saya tetap murah senyum, tidak berbuat kriminal, dan tetap ramah kepada siapa saja. Tidak ada perubahan selain penampilan.

Ada cerita menarik pada saat berambut gondrong. Mungkin karena bolak-balik diingatkan oleh beberapa karyawan dari yang selevel hingga pucuk pimpinan di kantor saya, namun saya tetap enggan potong rambut, akhirnya saya didapuk menjadi salah satu petugas upacara untuk peringatan hari kebangkitan nasional. Nota dinas penunjukan telah diterbitkan. Tak mungkin bagi saya untuk menghindar. Tapi rasanya tak pantas juga jika petugas upacara berambut gondrong. Saya sempat kebingungan juga waktu itu.

“Masak harus potong?” dalam hatiku berontak.

Akhirnya timbul lah ide untuk “mengakali” rambut ini agar kelihatan rapi. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai pomade. Ya, seluruh rambut saya dari akar hingga ke ujung rambut tak luput dari pomade yang saya beli seharga dua ratus ribu itu. Walhasil penampilan saya waktu itu bak mafia Italia berambut klimis dengan kemeja batik lengan panjang dan sepatu pantofel. Keliahatan aneh, tapi saya tak ambil  pusing, yang penting saya bisa melaksanakan amanat sebagai petugas pembaca UUD 1945 tanpa perlu potong rambut. Seluruh peserta upacara seolah menyoroti penampilan saya pada waktu itu. Namun tetap. Saya tak ambil pusing. Tapi saat itu saya menjadi sedikit terkenal dan menjadi sorotan. Saya agak sedikit kurang enak terhadap atasan saya. Beliau yang sering kena “luapan” pertanyaan dan tanggapan akibat stafnya yang sedikit bandel ini. Tapi jujur, beliau belum pernah menyuruh saya untuk potong rambut.

Akhirnya saat itu pun tiba. Saat dimana saya harus merelakan rambut gondrong yang telah menemani selama hampir setahun untuk dipotong. Ya mau gak mau saya harus potong rambut lantaran “sentuhan pribadi” dari orang yang cukup peduli dengan saya dan lebih jauh lagi orang tersebut menegur Bos sekaligus mentor saya. Hingga akhirnya beliau yang selama ini tak mengurusi rambut saya pun dengan harus berkata seperti ini.

“Udah lah, Nang, kamu potong rambut lah, kamu jangan buat susah saya, masak hanya gara-gara rambut, kamu ke Papua”, ucapnya dengan nada santai.

Mendengar ucapan tersebut saya merasa bersalah, karena ada orang lain yang kena dampak akibat ulah saya. Dengan berat hati namun tetap ikhlas, akhirnya saya pergi ke Pangkas Rambut Madura untuk mengakhiri penampilan gondrong. Apa boleh buat,

Tapi saya tetap bersyukur minimal pernah berpenampilan demkian dan tahu betul respon orang lain terhadap penampilan kita. Walaupun sebenarnya tak ada korelasi langsung antara penampilan dan kelakuan. Sebab di luar sana banyak yang berpakaian serba putih ataupun berjas hitam dan berdasi namun kelakuan tak lebih baik dari preman pasar. Hanya beda penampilan saja.

2 thoughts to “Rambut Gondrong”

  1. Setuju tidak baik menilai orang hanya dari penampilan sebelum mengenalnya. Foto saat pake pomade mana mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published.