Skip to main content

Timnas Tunggal Ika

“Endonesah !” begitulah teriakan seorang lelaki paruh baya, dengan aksen jawanya yang kental dengan tatapan yang penuh konsentrasi ke arah layar TV yang kira-kira berukuran 28 inchi. Pada malam itu tengah berlangsung pertandingan di ajang Piala AFF antara kesebelasan timnas Indonesia melawan Vietnam.

Mungkin bapak paruh baya tadi bukanlah satu-satunya suporter Timnas Indonesia yang sedang rindu-rindunya menyaksikan timnas kita berlaga di atas lapangan. Mungkin saya atau pun kita semua merupakan suporter yang sangat merindukan para pemain timnas berlaga di atas rumput hijau. Setelah lebih dari setahun vakum akibat kekisruhan di induk federasi sepak bola Indonesia, PSSI, yang menyebabkan Timnas Indonesia harus rela mendapatkan sanksi dilarang berlaga di event internasional manapun. Di penghujung tahun ini Indonesia kemabali dapat berlaga di pertandingan internasional, seperti Piala AFF, setelah sanksi tersebut dicabut.

Pertandingan malam itu merupakan pertandingann leg kedua di babak semifinal yang dihelat di kandang Vietnam. Pada laga sebelumnya yang berlangsung di kandang Indonesia, Stadion Pakansari, Indonesia unggul tipis dengan skor 2-1. Hal ini lah yang menyebabkan Vietnam tampil begitu trengginas sejak menit-menit awal pertandingan. Tanpa ampun mereka memborbardir pertahanan Timnas Indonesia. Saya dan para penonton lainnya, yang pada saat itu menyaksikan pertandingan di sebuah warung makan pecel, menjadi tegang dan sering menghela napas panjang. Jantung ini mau copot rasanya ketika pemain-pemain Vietnam melepaskan tembakan yang mengarah ke  gawang Indonesia.

Pada malam itu saya menyaksikan pertandingan di sebuah warung  sembari menyantap makan malam. Setelah menyelesaikan makan malam dan bertepatan dengan peluit tanda babak pertama berakhir, saya langsung bergegas ke tempat ngejus langganan. Di tempat yang terletak di Jalan Pengayoman, Makassar itu, telah mengunggu dua orang sahabat. Kami berjanji nongkrong bareng pada malam itu. Tanpa ragu saya memacu sepeda motor dengan harapan dapat melanjutkan menonton pertandingan timnas di tempat ngejus tersebut.

Ada hal yang menarik kali ini. Setelah merasa cukup ngobrol-ngobrol sembari menikmati beberapa gelas jus, kami bersepakat untuk menginap di rumah sahabat kami. Di perjalanan pulang, saya mengendarai sepeda motor dan dua teman saya menggunakan mobil. Pada saat perjalanan pulang ini lah, sepanjang jalan saya memikirkan kelanjutan pertandingan Indonesia. Hal ini membuat saya mencari-cari lokasi mana yang bisa saya akses secara cepat agar dapat menyaksikan pertandingan kembali.

‘Mau warkop, mau warung makan , atau juga rumah orang, bodo amat, yang penting TVnya kelihatan, saya harus mampir” gumamku dalam hati.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, saya akhirnya menemukan sebuah warung lesehan dengan menu andalan ayam penyet. Di warung tersebut TVnya tampak jelas dari beranda warung, tanpa harus masuk ke dalamnya agar dapat menonton TV dengan jelas. Tanpa ragu, saya pun langsung memarkirkan sepeda motor.

“Pak numpang nonton ya”, saya pun menyapa sembari menyiratkan ingin menumpang nonton di warungnya.

Pada saat itu para pramusaji dan para pengunjung yang tengah bersantap tengah fokus menyaksikan pertandingan di layar kaca. Termasuk pria paruh baya yang saya ceritakan di awal tadi.

Rejeki anak sholeh memang tak akan ke mana. Dengan ramah, seseorang yang dugaanku adalah pemilik warung mempersilakan saya untuk masuk ke warungnya. Tanpa harus memesan satu menu pun di warungnya, ia mempersilakan saya untuk menonton bersama para pengunjung warung lainnya.

Ada momen yang sangat mengharukan pada saat itu, ketika salah satu pemain timnas mencetak angka yang membuat kedudukan menjadi imbang, kami larut dalam suasana haru penuh bahagia. Tanpa sadar Bapak paruh baya tadi memeluk saya sambil berujar.

“ Gol Le, lolos Le”, ucapnya, lalu kami melakukan toss dengan penuh rasa persaudaraan

Seketika saya terharu. Betapa tidak orang yang tidak saya kenal sebelumnya, dan hingga saat ini saya belum tahu siapa namanya, dan dari mana ia berasal, mau memeluk saya seolah sahabat yang sudah lama ia kenal. Dari pelukannya dan toss yang kami lakukan, saya pun merasa kami seolah-olah sudah berkarib cukup lama. Tanpa perlu tahu latar belakangnya, dan dari mana dia berasal.

Memang persatuan itu bisa timbul dari mana saja, termasuk dalam mendukung timnas Indonesia. Semua batas-batas, sekat-sekat seolah pudar ketika sama-sama menyaksikan kesebelasan Indonesia berlaga. Boleh jadi sepak bola adalah salah satu alat pemersatu bangsa yang saat ini terus dirongrong oleh perpecahan yang belakangan mulai terasa menyeruak.

Hasil imbang pada pertandingan kali itu cukup untuk membuat Indonesia melaju ke babak final. Semoga tahun ini doa-doa dari para suporter diijabah Sang Maha Pencipta agar para kesatria-kesatria dengan Garuda di dada dapat dengan bangga mempersembahkan Piala AFF kepada Bangsa Indonesia, Bangsa yang ber-Bhineka namun Tunggal dalam Ika.

2 thoughts to “Timnas Tunggal Ika”

Leave a Reply

Your email address will not be published.